Dirgantaranews, Jakarta - Prancis sukses menguji rudal udara-ke-udara generasi terbaru MICA NG dari jet tempur Rafale yang melaju dalam kecepatan supersonik. Rudal ini dikembangkan untuk menghadapi ancaman udara modern, mulai dari drone, rudal jelajah yang sangat lincah, hingga target berjejak rendah yang sulit dideteksi.
Namun mengapa pengujian yang berlangsung di langit Mediterania itu menarik perhatian jauh melampaui perbatasan Prancis?
"Peluncuran ini memvalidasi seluruh rantai penyebaran versi inframerah MICA NG dalam lingkungan operasional yang sangat menuntut," demikian pernyataan Badan Pengadaan Pertahanan Prancis (DGA), sebagaimana diberitakan Aviation Week dan sejumlah media pertahanan beberapa waktu lalu.
Di balik bahasa teknis tersebut, tersimpan sebuah pencapaian penting. Prancis berhasil memvalidasi kinerja sistem pencari inframerah atau infrared seeker MICA NG dalam kondisi penerbangan supersonik, sebuah lingkungan yang jauh lebih menantang dibanding penerbangan biasa.
Kehadiran Rafale di Indonesia menimbulkan satu pertanyaan yang selalu menarik perhatian para pengamat militer: jika suatu hari terjadi duel udara di kawasan Asia, siapa lawan terberat yang mungkin dihadapi jet tempur buatan Prancis tersebut?
Jawabannya tidak sederhana. Rafale memang sering disebut sebagai salah satu jet tempur generasi 4,5 paling mumpuni di dunia. Pesawat ini menggabungkan radar AESA, sistem peperangan elektronik SPECTRA, kemampuan membawa beragam senjata canggih, serta fleksibilitas menjalankan berbagai misi dalam satu platform.
Namun langit Asia juga dihuni oleh sejumlah pesawat tempur yang tidak kalah berbahaya.***red/rfm


